Sejarah kolonial Amerika Serikat
Bangsa Inggris mencoba mendirikan permukiman di
Pulau Roanoke tahun 1585, tetapi tidak berlangsung lama. Pada tahun 1607, permukiman Inggris pertama yang dapat bertahan berdiri di
Jamestown, Virginia. Permukiman ini didirikan oleh
John Smith,
John Rolfe, dan orang-orang Inggris lainnya yang tertarik dengan kekayaan dan petualangan. Koloni di
Virginia hampir gagal bertahan karena penyakit dan kelaparan, tetapi berhasil karena penanaman
tembakau.
Pada tahun 1621, sekelompok orang Inggris yang dijuluki
Pilgrim Fathers (orang yang melarikan diri karena berselisih paham dengan
gereja) menetap di
Plymouth, Massachusetts. Koloni yang lebih besar dibangun di
Teluk Massachusetts oleh
Puritan tahun
1630. Daripada menemukan emas,
Pilgrims dan Puritan lebih tertarik untuk membuat masyarakat yang lebih baik, yang mereka juluki "kota di sebuah bukit."
Roger Williams, yang ditendang keluar dari Massachusetts, mendirikan koloni di
Rhode Island tahun 1636.
Inggris bukan hanya satu-satunya negara yang menetap di wilayah yang kini menjadi Amerika Serikat. Pada tahun 1500-an,
Spanyol mendirikan benteng di
Saint Augustine, Florida.
Perancis menetap di
Kanada dan wilayah sekitar
Danau-Danau Besar. Bangsa Belanda mendirikan koloni di
New York, yang mereka sebut
Nieuw Nederland. Wilayah-wilayah lain dimukimi oleh orang
Skotlandia-
Irlandia,
Jerman, dan
Swedia.
Perkembangan koloni merupakan hal yang buruk bagi penduduk asli
Amerika. Mereka kehilangan negeri mereka, dan banyak dari antara mereka
yang meninggal akibat
variola, penyakit yang dibawa bangsa Eropa ke Amerika.
Pada awal tahun 1700-an, muncul gerakan religius yang disebut
Gerakan Kebangunan Rohani.
Gerakan Kebangunan merupakan salah satu peristiwa pertama dalam sejarah
Amerika yang merupakan "pergerakan besar", atau sesuatu yang melibatkan
banyak orang Amerika. Gerakan Kebangunan Rohani, bersama dengan
Penghukuman Penyihir Salem, merupakan tanggapan atas situasi Amerika saat itu, dan mungkin memengaruhi pemikiran yang digunakan dalam Revolusi Amerika.
Pada tahun
1733, terdapat tiga belas koloni. Koloni-koloni ini biasanya dikelompokan menjadi New England (
New Hampshire,
Massachusetts,
Rhode Island and
Connecticut), koloni-koloni Tengah (
New York,
New Jersey,
Pennsylvania,
Delaware), dan Selatan (
Maryland,
Virginia,
Carolina Utara,
Carolina Selatan, dan
Georgia). New England memiliki peternakan-peternakan kecil, dan lebih bertumpu pada perikanan, perkapalan, dan
industri-industri kecil. Koloni Selatan memiliki perkebunan
tembakau dan
kapas.
Kebun-kebun ini awalnya digarap oleh pekerja yang bersedia bekerja
beberapa tahun dengan upah pintu masuk ke Amerika dan tanah, lalu oleh
budak. Koloni tengah memiliki peternakan berukuran kecil, dan dikenal memiliki budaya dan kepercayaan yang beragam.
Ketigabelas koloni tersebut terikat dengan "
ekonomi Atlantik", yang melibatkan penggunaan kapal untuk perdagangan budak, tembakau,
rum,
gula,
emas,
rempah-rempah,
ikan,
kayu, dan barang hasil produksi, antara Amerika,
Hindia Barat,
Eropa, dan
Afrika.
New York,
Philadelphia,
Boston, dan
Charleston merupakan kota dan pelabuhan utama pada masa itu.
Dari tahun 1754 hingga 1763, Inggris dan Perancis terlibat dalam perang yang disebut
Perang Tujuh Tahun. Inggris berhasil memenangkan perang. Perancis menyerahkan koloninya di
Kanada kepada Inggris, dan menyerahkan
Louisiana ke
Spanyol; Spanyol menyerahkan
Florida ke Inggris. Selanjutnya, Inggris mengeluarkan
Proklamasi 1763, yang menyatakan bahwa orang yang tinggal di tiga belas koloni tidak dapat menetap di sebelah barat
Pegunungan Appalachia.