Labels

Showing posts with label NEWs. Show all posts
Showing posts with label NEWs. Show all posts

Saturday, March 30, 2013

SOuth Korea WAR

 North Korean leader Kim Jong-Un (L) watches soldiers of the Korean People's Army (KPA) taking part in the landing and anti-landing drills of KPA Large Combined Units 324 and 287 and KPA Navy Combined Unit 597, in the eastern sector of the front and the east coastal area on March 25, 2013, in this picture released by the North's KCNA news agency in Pyongyang March 26, 2013. REUTERS/KCNA
By Jack Kim
SEOUL (Reuters) - North Korea said on Saturday it was entering a "state of war" with South Korea in a continuing escalation of angry rhetoric directed at Seoul and Washington, but the South brushed off the statement as little more than tough talk.
The two Koreas have been technically in a state of war for six decades under an armistice that ended their 1950-53 conflict. Despite its threats few people see any indication Pyongyang will risk a near-certain defeat by re-starting full-scale war.

Kopasus Ready For war

 
Jakarta (ANTARA) - Mantan Asisten Personil, Asisten Operasi, dan Wakil Komandan Jenderal Kopassus periode 1988-1992 Sutiyoso menyatakan solidaritas pasukan Kopassus memang tinggi jika dikaitkan dengan kesetiakawanan antarpersonelnya.

Aneh

 A radiograph of the two-headed shark. (Photo By Journal of Fish Biology / C. M. Wagner et al)
Seorang nelayan menangkap hiu banteng di lepas pantai Florida Keys baru-baru ini, dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: salah satu janin hiu yang hidup memiliki dua kepala.

Nelayan tersebut kemudian menyimpan spesimen aneh itu, dan memberitahu para peneliti, yang dijelaskan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 25 Maret dalam “Journal of Fish Biology”. Penemuan ini merupakan salah satu contoh dari sedikit hiu berkepala dua yang pernah ditemukan (ada sekitar enam kasus dalam laporan yang diterbitkan) tapi ini merupakan kasus pertama yang ditemukan pada hiu banteng, kata Michael Wagner, seorang penulis studi tersebut dan peneliti di Michigan State University.

Saturday, March 23, 2013

THE OLD DRAGON STONE

Tim arkeolog Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) tengah meneliti batu tulis bertatahkan gambar naga di Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat. "Batu ini mungkin satu-satunya peninggalan berwujud naga di Jawa Barat," kata Arkeolog dari Universitas Indonesia, Ali Akbar, saat dihubungi melalui telepon, 15 Maret 2013.

Batu naga. Foto: Ali AkbarBatu tulis ini terletak di puncak Gunung Tilu, Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kecamatan Karangkencana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Penduduk sekitar telah lama mengetahui keberadaan batu ini, tapi tidak merasa berkepentingan untuk menilik keadaan situs yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini. Situs ini hanya rutin dikunjungi oleh orang-orang yang bertapa maupun ngalap berkah, mencari pesugihan.

Batu tegak yang berpahat gambar naga tersebut diperkirakan merupakan peninggalan zaman prasejarah. Menurut Ali, batu tegak yang berasal dari batu utuh, sesuai batu aslinya tanpa dibentuk adalah ciri umum peninggalan prasejarah. Tapi, pahatan gambar dalam batu, apalagi bergambar naga, bukan merupakan ciri khas masyarakat prasejarah.

Jadi, dari masa apakah peninggalan ini berasal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut Ali Akbar mempunyai sebuah dugaan. "Ada kemungkinan relief itu dipahat belakangan," kata dia. Susunan batu diperkirakan memang berasal dari masa prasejarah, pada periode tahun 500 SM. Belakangan, ukirannya dibuat oleh manusia dari masa yang berbeda. Ukiran naga diduga berasal dari masa Sunda Kuno di sekitar abad 14-15 masehi.

Peninggalan ini terdiri atas dua batu besar yang tersusun seperti gerbang, menyambut orang yang datang dari arah selatan. Menjelang dan setelah melewati "gerbang' ini, terdapat banyak batu besar berserakan. Kemungkinan besar terdapat pola tertentu pada susunan batu-batu ini. Sayang, pengamatan belum dapat dilakukan karena kondisi situs tertutup tumbuhan hutan.

"Ada batu bergores yang goresannya membentuk gambar-gambar yang bagus," kata Ali. Saat diperhatikan, gambar tersebut menyerupai bentuk naga. Ali menduga gambar tersebut adalah naga karena digambar setengah badan dan mempunyai jambul di kepala seperti layaknya naga.

"Naga yang terpahat ini sesuai dengan gambaran naga dalam budaya timur karena berwujud ceria," kata dia. Ali Akbar menjelaskan, ada dua macam bentuk naga yang dikenal dalam kebudayaan. Dalam kebudayaan timur, naga adalah lambang kebaikan, sedangkan dalam kebudayaan barat, naga adalah lambang kejahatan yang bengis dan jahat.

Jika gambar itu benar gambar naga, maka batu tulis ini adalah peninggalan pertama berbentuk naga yang ditemukan di Jawa Barat. Berbeda dengan daerah Jawa Timur yang kental pengaruh Hindu, bentuk naga tak pernah dikenal di daerah Jawa Barat.

Naga juga tidak dikenal dalam kebudayaan Sunda kuno. "Budaya Sunda lebih mengenal ular besar sebagai lambang kesuburan dan pembawa berkah," kata Ali. Gambar tersebut dapat juga dilihat sebagai ular besar yang bermahkota, sebab tak ada gambar kaki seperti yang biasa ditemukan pada perwujudan naga.

Jam Kuno Mesir

 A sundial dating to the 13th century B.C. and considered one of the oldest Egyptian sundials, was discovered in Egypt's Valley of the Kings, the burial place of rulers from Egypt's New Kingdom period (around 1550 B.C. to 1070 B.C.).
Sebuah jam matahari ditemukan di luar makam di Lembah Para Raja di Mesir. Temuan ini mungkin saja merupakan jam matahari Mesir kuno tertua di dunia, ujar para ilmuwan.

Bertanggal sejak dinasti ke-19, atau abad 13 SM, jam matahari itu ditemukan di lantai sebuah pondok pekerja, di Lembah Para Raja, tempat pemakaman para penguasa dari periode Kerajaan Baru Mesir (sekitar 1550 SM hingga 1070 SM).

"Penemuan ini penting karena jam tersebut kira-kira seribu tahun lebih tua dari masa saat alat pengukur waktu serupa diperkirakan mulai digunakan," ujar Susanne Bickel, peneliti dari University of Basel di Swiss. Penemuan jam matahari yang sebelumnya bertanggal pada periode Yunani-Romawi, berlangsung dari sekitar 332 SM ke AD 395.

Suri Cruise, putri Tom Cruise dan Katie Holmes

Suri Cruise, putri Tom Cruise dan Katie Holmes
Suri dan Katie Holmes. (Getty Premium)Suri telah menjadi sampul tabloid sejak ia lahir, seringnya ia jadi berita karena perhatian mewah yang ia terima dari orang tuanya.

Musim panas ini, ketika Tom membawa Suri ke Disney World, anak berusia enam tahun itu menginap di Cinderella's Castle Suite - sebuah apartemen yang awalnya dirancang untuk keluarga Walt Disney di Magic Kingdom yang sebenarnya tak bisa dipesan dan biasanya disediakan untuk acara khusus, menurut People.

Dilaporkan bahwa pakaian Suri bernilai $3 juta (sekitar Rp29 miliar) dan termasuk benda yang banyak didambakan seperti mantel merah seharga $2140 (sekitar Rp20 juta) rancangan Dolce & Gabbana dan sejumlah gaun dari desainer seperti Marc Jacobs, Chloe, Burberry, dan Juicy Couture.

Bukan hanya liburan eksklusif dan pakaian mewah yang mahal dalam kehidupan Suri. Mail Online baru-baru ini melaporkan bahwa Katie berencana untuk mengejutkan putrinya dengan Grand Victorian Playhouse seharga $24 ribu (sekitar Rp232 juta) untuk Natal yang dilengkapi dengan air mengalir, listrik, dan lansekap yang luas.

Petra dan Tamara Ecclestone

Jika kebanyakan anak-anak di Amerika Serikat cukup senang dengan perjalanan ke Disney World, untuk Suri Cruise perjalanan ke Magic Kingdom tidak lengkap tanpa bermalam di suite khusus undangan di Istana Cinderella. Padahal dia bukan anak yang paling manja dalam daftar ini.

Petra dan Tamara Ecclestone, putri dari Bos Formula One, Bernie Ecclestone

Tama (kiri), Petra (kanan), dan ayah mereka Bernie Ecclestone. (Foto: Getty/Mark Thompson)Petra dan Tamara, putri cantik dan manja dari Bernie Ecclestone, dikenal karena sering membeli barang mewah mulai dari tas hingga real estate - Petra terkenal membeli sebuah mansion seharga $85 juta (sekitar Rp824 miliar) di LA pada tahun lalu.

Perempuan berusia 23 dan 28 tahun itu dilaporkan memiliki akses pada dana perwalian dari ayah mereka sebesar $4,8 miliar (sekitar Rp46 triliun), dan meski Bernie mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri, dia tidak puas dengan cara kedua putrinya menyia-nyiakan warisannya.

"Anak-anak memiliki akses ke uang tersebut," ujar Ecclestone pada The Telegraph tahun lalu. "Idenya adalah agar mereka bisa membeli properti berkualitas, properti untuk jangka panjang, untuk anak-anak mereka dan segala sesuatu yang lain. Tetapi itu tidak terjadi. Mereka tidak melakukan itu. Mereka jadi hanya punya akses ke uang yang mereka habiskan."

Tuesday, February 26, 2013

IMPLANT

 
Implan pereda sakit kepala

Pereda sakit kepala ini bukan sembarang alat. Bentuknya kecil dan ditanamkan dalam bahan serupa permen karet atas di atas gigi geraham untuk mengobati sakit kepala dan migren. Ketika pasien merasa sakit kepala, remote control yang diletakkan di pipi akan memberikan stimulasi saraf untuk memblokir nyeri.

"Implan ini telah tersedia di Eropa, tetapi tidak di Amerika Serikat. Perusahaan perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan persetujuan FDA," kata Dr Frank Papay, Ketua Departemen Dermatologi dan Operasi Plastik di Cleveland Clinic.

BARIATRIK MEDICAL

 
Operasi Bariatrik

Para dokter dan peneliti memilih operasi bariatrik untuk menurunkan berat badan ini sebagai inovasi terbaik. Bukan karena efektivitasnya dalam mengurangi obesitas, tetapi karena kemampuannya mengontrol diabetes tipe 2, penyakit yang paling banyak menjangkiti orang-orang obesitas.

Selama bertahun-tahun, ahli bedah bariatrik melihat bahwa prosedur ini sering berhasil menyingkirkan diabetes tipe 2 pada pasien obesitas. Apalagi jumlah orang yang terkena diabetes telah meningkat 3 kali lipat selama 30 tahun di AS. Sebanyak lebih dari 90% kasus diabetes adalah diabetes tipe 2.

Thursday, February 21, 2013

ROBONAUT 2

One of the more publicized technology demonstrations on STS-133 is a humanoid robot that seems like something right out of a sci-fi movie. Robonaut serves as a springboard to help evolve new robotic capabilities in space. Over the next few years, tests of this technology on the space station will demonstrate that a dexterous robot can launch and operate in a space vehicle, manipulate mechanisms in a microgravity environment, function for extended duration within the space environment, assist with tasks, and eventually interact with the crewmembers.

The current Robonaut iteration: Robonaut 2.
(Image courtesy of NASA)

I am eager to see the results from the various studies beginning, ongoing, and returning from the space station via STS-133. This is an exciting time of full utilization of our laboratory in low Earth orbIT !

SAGE LEGACY

In today’s A Lab Aloft, guest blogger Kristyn Damadeo shares the history of the SAGE investigation, scheduled for future use on the International Space Station. This technology can help researchers to better understand Earth’s atmosphere makeup, especially the health of our ozone layer.
The International Space Station houses some unique experiments and soon it will be home to an exciting new Earth science mission: SAGE III, the Stratospheric Aerosol and Gas Experiment III.
SAGE III mounts externally to the space station and is a mission to study Earth's atmosphere sponsored by the NASA Science Mission Directorate and led by NASA Langley Research Center. It will be the first Earth-observing instrument of its kind aboard station, taking accurate measurements of the amount of ozone, aerosols—tiny particles—water vapor and other key components of Earth's atmosphere.
The SAGE Legacy
SAGE III is the first of its kind to operate on station, but the SAGE family of instruments has been taking atmospheric measurements for more than 30 years. SAGE III is the fourth generation in its family operated by NASA.

The artwork above belongs to the SAGE III instrument, which is part of a family of SAGE technology developed to help research Earth’s atmosphere. (NASA Image)

NASA NEW LAB

In today’s A Lab Aloft guest blogger, Sandra Olson, Ph.D., reveals some of the mysteries of how flames burn in microgravity, as well as how flame studies on the ground and aboard the International Space Station help with fire suppression and safety in space.

Whether dropping through a hole in the ground as part of a drop test or zipping through space aboard the International Space Station, flames behave in fascinating ways in microgravity! In the Zero Gravity Research Facility, or ZGRF, at NASA’s Glenn Research Center, I get to study solid fuel combustion behavior first hand. ZGRF is a historic landmark and the deepest drop tower in the world with a freefall of 432 feet. Drop test experiments, like the one pictured below, look at material flammability during the brief, 5.18-second period of microgravity achieved as the sample package falls.


During a Zero Gravity Research Facility tour, Facility Manager Eric Neumann (far left) shows International Space Station Program Scientist Julie Robinson (front center) and her colleagues one of the drop packages used in the facility. The top of the white vacuum drop shaft is in the background. (NASA/Marvin Smith)

NASA

In today’s A Lab Aloft Assistant International Space Station Program Scientist Camille Alleyne talks about a new education publication that highlights more than a decade of inspiring student opportunities with space station investigations and activities.
This October I was excited to see the publication of a book that was not only an international collaboration, but more than a decade in the making: “Inspiring the Next Generation: International Space Station Education Opportunities and Accomplishments, 2000-2012.” Readers can find the PDF version of the publication here and are encouraged to visit the space station’s opportunity site for current education activities.
From a personal perspective, the value of the space station is as a platform for promoting Science, Technology, Engineering and Math (STEM) education, and engaging and exciting students in their studies in these areas. We can really inspire and increase interest in these subjects so that our youth go on to become the next generation of scientists, engineers and explorers.
In the past 12 years of operation, there have been more than 42 million students, 2.8 million teachers and 25,000 schools from 44 countries involved in education activities aboard the space station. This is a bonus in addition to our space station research for exploration, scientific discovery and applied research.
This publication is the follow up to “Inspiring the Next Generation: Student Experiments and Educational Activities on the International Space Station, 2000–2006,” and is a product of NASA’s ISS Program Science Office. The new document is the first time we worked to share these education activities in partnership with our international partners to show the benefits of space station research and education interactions that impact our life here on Earth. There was a team of education leads from each of the international partners that contributed to this publication, which is a comprehensive documentation of all the education activities conducted on the space station since 2000. This includes activities that are ongoing and will continue for the next few years.

Cover of the education publication: “Inspiring the Next Generation: International Space Station Education Opportunities and Accomplishments, 2000-2012.” (NASA)
This book looks at education activities in several different categories. Students are able to get involved with experiments that fly on the space station. They also have opportunities to take part in competitions, with the winners getting to either fly their experiments on station or have a crew member perform some aspect of the challenge. Finally, students have the ability to participate in classroom versions of station investigations by either mimicking or outright partaking in the experiments happening aboard station.

NASA International NEWs

In today’s A Lab Aloft International Space Station Program Scientist Julie Robinson looks back at the year in review for research aboard the orbiting laboratory.
As the year comes to a close, I like to take a moment to look back at all the amazing accomplishments from the previous twelve months for the International Space Station. There are lessons to be learned and goals to be evaluated as part of planning for the new year. But this is also a time to enjoy achievements and strides made via this orbiting laboratory in research, technology and education.
Keeping a Helpful Eye on Earth
The vantage point of station offers not only an impressive view of our planet, but the chance to capture and study important aspects of the Earth’s atmosphere, waters, topography and more. The 2012 arrival of the ISS SERVIR Environmental Research and Visualization System, known as ISERV, will enhance the viewing capabilities from orbit used to support disaster assessment, humanitarian assistance and environmental management.
This year an externally-mounted station instrument contributed to the Environmental Protection Agency’s goal of monitoring and improving coastal health. The same Hyperspectral Imager for the Coastal Ocean, or HICO, also assists the National Oceanic and Atmospheric Administration, or NOAA, with scans to determine depth below murky waters, bottom type, water clarity and other water optical properties.
Assisting with disaster response became the secondary mission for the International Space Station Agricultural Camera, or ISSAC. This imager was originally intended for agriculture vegetation surveys to assist with crop and grazing rotation. When that primary science objective ended, the camera became part of the space station’s response efforts for global disasters as part of the International Disaster Charter.

Map of chlorophyll-a for Pensacola Bay derived from HICO data. Higher values (yellow and red) indicate high chlorophyll concentrations in the water that suggest algal blooms are present. Algal blooms can reduce oxygen levels in the water, leading to fish and other animal kills. Some algal blooms also contain organisms that produce toxins harmful to other life, including humans. (EPA)

Tuesday, February 19, 2013

PENCAPAIAN TERBESAR MANUSIA

Kini satelit Voyager-1 telah memasuki kawasan yang disebut sebagai ‘stagnation region’.

Lebih dari tiga dekade setelah diluncurkan, satelit ruang angkasa Voyager-1 milik NASA sedikit lagi lepas dari tata surya. Ia kini telah memasuki kawasan baru yang letaknya ada di antara sistem tata surya dan ruang antar bintang.

Voyeger-1 berjarak 11 miliar mil dari Bumi dan adiknya, Voyager-2 berjarak 9,5 miliar mil dari Bumi.
Kawasan yang oleh para ilmuwan disebut sebagai ‘stagnation region’ itu berjarak hingga sekitar 113 astronomical units (AU) atau sekitar 16,9 miliar kilometer dari Matahari.
Voyager-1, yang kini berjarak 11 miliar kilometer dari Matahari telah menjelajah pinggir tata surya sejak 2004 dan mulai masuk ke stagnation zone pada awal pekan ini.
Meski begitu, satelit tersebut masih harus bertahan sedikit lagi sebelum ia benar-benar keluar dari tata surya.
Dan jika berhasil, ia akan menjadi benda luar angkasa buatan manusia pertama yang tiba di interstellar space, atau ruang maha luas yang berada di ruang antara bintang.
Menurut NASA, baterai milik satelit ruang angkasa buatannya itu hanya punya kapasitas yang cukup untuk memasok daya hingga 2020.

Wahana-wahana antariksa tak berawak milik peradaban manusia Bumi terjauh sepanjang sejarah manusia, Voyager-1, Voyager-2 dan Pioneer.
Namun demikian, ilmuwan memperkirakan, Voyager- 1 akan tiba di interstellar space sebelum baterainya habis. Diperkirakan, dalam hitungan bulan hingga beberapa tahun ke depan.
Pada ajang American Geophysical Union yang berlangsung di San Francisco, Ed Stone, Chief Scientist dari Jet Propulsion Laboratory NASA menyebutkan, pihaknya tidak bisa menentukan kapan Voyager-1 akan tiba di ruang tersebut.
“Kami tidak bisa menentukannya karena tidak ada pesawat ruang angkasa yang pernah pergi sejauh ini,” ucap Stone, seperti dikutip dari FoxNews, Selasa Desember 2011. “Perjalanan masih terus berlanjut,” ucapnya.

Wahana antarksa tanpa awak Voyager dan bagian-bagiannya.
Voyager-1, dan kembarannya yakni Voyager 2, diluncurkan pada 1977 dalam misinya menjelajahi planet-planet luar tata surya seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Setelah misi utama mereka tuntas, keduanya bergerak menuju interstellar space, namun menggunakan arah yang saling berlawanan.
Voyager 2, yang bergerak lebih lambat dibanding Voyager 1 kini berada di jarak 9 miliar kilometer dari Matahari

REAL ALIEN

Ilmuwan menilai matahari merupakan alat komunikasi terbaik jika manusia bisa memanfaatkannya secara optimal. Bahkan, matahari dapat membantu komunikasi dengan alien. Lho koq bisa?
Jika gravitasi matahari dapat digunakan untuk menciptakan teleskop raksasa, manusia juga bisa mengirim dan menerima sinyal magnetik secara intensif yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan peradaban alien.
Berdasarkan teori relativitas Einstein, massa matahari yang sangat besar merupakan media bagi ruang waktu di sekitarnya.
Ini menciptakan semacam tikungan sinar terang yang dapat dilewati oleh lensa raksasa.
Jika detektor ditempatkan pada jarak fokus yang sesuai untuk mengumpulkan cahaya, maka gambar yang dihasilkan dapat pula menghantarkan arus magnet besar.
Namun, titik fokus terdekat berada di 550 kali jarak antara Bumi dengan matahari.

Human can using the Sun to contacting Aliens
Meskipun demikian, kekuatan itu dapat dimanfaatkan oleh bumi untuk melihat obyek yang jauh, berkomunikasi dengan satelit antar bintang dan berhubungan dengan alien.
Teknik ini dapat diterapkan untuk cahaya optik atau cahaya yang lebih panjang dari spektrum radio.
Tambahan, meskipun jaringan yang lebih kuat dapat terbentuk dari penempatan pesawat anariksa yang mampu relay jaringan tapi ‘jembatan radio’ itu dapat mendistorsi komunikasi kosmik.
“Jika kita dapat memanfaatkan lensa grafitasi matahari, manusia dapat terus berhubungan dengan satelit dengan jarak berapapun,” kata Claudia Maccone, direktu teknis di International Academy of Astronautics, Paris.
“Ini adalah kunci untuk melakukan eksplorasi lingkungan galaksi manusia di abad mendatang,” tambahnya lagi. Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Acta Astronautica

LALAM SEMESTA LEBIH DARI 1

Benarkah ada alam semesta selain yang kita diami sekarang? Teori fisika modern membenarkannya.  Berdasarkan teori itu, semesta tak cuma satu, dunia adalah dunia yang multiverse.
Semesta tempat kita hidup berada dalam sebuah gelembung di mana ada semesta lain yang terdapat di dalamnya. Tabrakan antarsemesta adalah hal yang mungkin terjadi.
Fisikawan dari University College London (UCL) kini mengembangkan cara untuk mendeteksi jejak tabrakan itu. Mereka membuat simulasi langit dengan atau tanpa tabrakan dan mengembangkan algoritma dasar untuk menentukan citra yang sesuai dengan data radiasi gelombang mikro kosmos dari Wilkinson Microwave Aniostropy Probe (WMAP) milik NASA.

Metode yang dikembangkan para ilmuwan itu dipublikasikan di jurnal Physics Review Letters dan Physical Review D yang terbit Juli 2011. Algoritma yang dikembangkan memiliki keampuhan sebab bisa menyelesaikan masalah yang sering dihadapi saat ini dalam mendeteksi jejak tabrakan antarsemesta.
“Semua pola-pola yang didapatkan dalam data acak terlalu mudah untuk diinterpretasikan lebih (seperti klaim penemuan pahatan wajah Mahatma Gandhi di Mars yang ternyata citra gunung). Jadi kami berhati-hati dalam melihat data, seberapa mungkin tanda tabrakan ini cuma kebetulan,” kata Daniel Mortlock, ilmuwan UCL yang terlibat penelitian ini.

Mortlock mengatakan, dengan mengembangkan metode untuk mendeteksi tabrakan, teori bahwa dunia terdiri atas banyak semesta bisa dibuktikan atau dibantah. Selama ini, beberapa klaim penemuan jejak tabrakan antarsemesta ada, tapi belum bisa dipastikan bahwa jejak yang dimaksud adalah hasil tabrakan atau hanya noise dalam data.
Seperti dikutip Physorg, Rabu (3/8/2011), Stephen Feeney, pelajar UCL yang terlibat penelitian itu mengungkapkan, “Penelitian ini memberikan kesempatan untuk membuktikan teori yang benar-benar mengejutkan, bahwa kita ada dalam dunia yang multiverse, di mana semesta lain juga eksis di dalamnya.”
Berikut video simulasi 3 dimensi tentang alam semesta. Namun karena keterbatasaan zoom, maka pada awalnya dimulai hanya 1,5% saja dari total diametar alam semesta. Pada awal video ini, dimulai pandangan awal semesta yang lebarnya sudah dari 2,4 tahun cahaya.
Lalu saat perjalanan di zoom mendekat, dan setiap titik di dalam video ini adalah galaksi. Dan setiap galaksi tersebut terdiri dari ratusan miliar sistem bintang.

Hot News

NEW YORK – Sejumlah astronom telah menemukan jejak massa air tertua, terbesar dan terjauh yang pernah terdeteksi di jagat raya ini.
“Awan raksasa yang berumur 12 miliar tahun ini setara dengan 140 triliun kali lebih banyak dari seluruh massa air yang bisa dikumpulkan di Bumi.”
Uap atau awan raksasa ini diketahui mengelilingi lubang hitam besar (supermasif black hole) bernama Quasar yang letaknya 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Penemuan itu lalu menunjukkan, keberadaan air disana itu telah ada hampir semenjak jagat raya ini terbentuk.
Karena cahaya tersisa yang kita lihat di Quasar ini sebetulnya tercipta 12 miliar tahun yang lalu, kami melihat kandungan air itu tercipta sekitar 1,6 miliar setelah jagat raya terbentuk,” ujar Alberto Bolatto, astronom dari Universitas Ma ryland yang melakukan riset itu seperti dikuti Space.com, Kamis (22/7/2011)

Biggest water in the universe found in Quasar (illustration)
Penemuan ini mendorong munculnya fakta baru adanya air tertua yang terdeteksi di jagat raya. Jarak waktu dari kandungan air ini terbentuk dengan peristiwa Big Bang atau kemunculan jagat raya hanya 1,6 miliar tahun.
“Awan air” yang berada di sekitar lubang hitam Quasar tersebut diperkirakan memiliki temperatur 53 derajat Celcius. Tingkat kerapatannya 300 triliun kali lebih rendah dari atmosfer Bumi.
Pengukuran atas awan air dan molekul lain yang ada di sekitarnya macam karbon monoksida menjadi energi bagi lubang hitam untuk bisa berkembang lebih besar hingga 6 kali lipat dari ukuran saat ini.
Lalu, akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan selanjutnya tentang penemuan ini. Salah satunya adalah: mungkinkah ada makhluk hidup di dalam kumpulan “awan air” tersebut?
Seperti teori yang sangat terkenal di dunia sains, “Jika ada air, sangat besar adanya kehidupan.”

HUBBLE PHOTOS

Teleskop antariksa Hubble mengabadikan citra yang mengagumkan, pemandangan terjauh di jagat raya! Pemandangan ini mengungkap ribuan galaksi berjarak miliaran tahun cahaya dari Bumi!!

Hubble Telescope
Citra yang dihasilkan teleskop Hubble disebut X-treme Deep Field (XDF). Citra ini dihasilkan dari kombinasi pengamatan teleskop Hubble selama 10 tahun pada sepetak langit.
Beberapa galaksi yang diungkap lewat citra ini bahkan sepermiliar lebih redup dari yang bisa dilihat manusia!
XDF adalah sekuel dari citra Hubble Ultra Deep Field yang diambil tahun 2003 dan 2004.
Namun, XDF menyuguhkan citra yang lebih jauh hingga masa 13,2 miliar tahun yang lalu. Semesta sendiri tercipta 13,7 miliar tahun lalu lewat Big Bang.
“XDF adalah citra yang paling dalam yang pernah didapatkan dan mengungkap galaksi paling jauh dan redup yang pernah dilihat,” kata Garth Illingworth dari University of California, Santa Cruz.
“XDF memungkinkan kita mengeksplorasi waktu jauh ke belakang,” tambah pimpinan invesgitasi Hubble Ultra Deep Field tahun 2009 ini, seperti dikutip Space.com, Selasa (25/9/2012). Lokasinya berada di konstilasi Lepus, Columbia dan Cetus.
Dalam citra tersebut, terungkap ragam bentuk galaksi, mulai yang berbentuk spiral seperti Bimasakti, hingga yang berupa gumpalan, sebagai hasil dari tumbukan antar-galaksi. Galaksi yang kecil dan redup yang bisa jadi merupakan biji dari galaksi saat ini pun tampak.

Hubble X-treme Deep Field (XDF) menyorot lokasi yang berada di konstilasi Lepus, Columbia dan Cetus.
XDF sebenarnya hanya menyuguhkan galaksi yang berada di bagian selatan konstelasi Formax. Area wilayah ini hanya sepersekian dari area Bulan Purnama. Di wilayah itu saja, Hubble sudah mengungkap 5.500 galaksi.
XDF pun mengungkap galaksi termuda yang pernah ada, berumur hanya 450 tahun lebih muda dari Big Bang. Hubble diluncurkan pada tahun 1990 atas kerja sama Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan European Space Agency. (hubble/space.com/kompas)


Penampakan dekat (zoomed) dari X-treme Deep Field (XDF) oleh teleskop Hubble. Terlihat beberapa galaksi dari gambar sebelumnya diatas. Tepatnya bagian atas agak kiri pada gambar diatas.

Teleskop Hubble melihat ke masa lalu dengan urutan: Galaksi Normal, Galaksi masa kini, HDF (Hubble Deep Field), HUDF (Hubble Ultra-Deep Field), Galaksi-galaksi pertama, Bintang-bintang pertama, Masa Gelap dan masa paling awal yaitu Masa Radiasi (Big Bang)

Galaksi Bimasakti Terancam Ditabrak Awan Raksasa!

Gumpalan awan raksasa yang mengandung gas hidrogen dalam volume sangat besar tengah melesat mendekati piringan Galaksi Bima Sakti, tempat tata surya kita berada.
Tabrakan dahsyat yang diperkirakan terjadi antara 20-40 juta tahun lagi akan menghasilkan kembang api spektakuler di langit!
Objek tersebut diberi nama Awan Smith, diambil dari nama Gail Smith, seorang astronom AS yang mendeteksinya pertama kali pada tahun 1963 saat meneliti di Universitas Leiden, Belanda.
Tampak Galaksi kita Bimasakti (the Milky Way) terlihat juga posisi matahari kita (sun). Pada sisi bawah gambar terlihat Awan Smith (Smith Cloud) yang sedang mengarah ke galaksi Bimasakti dan suatu saat keduanya akan bertabrakan (bisa dilihat pada gambar animasi dibawah halaman)
Tampak Galaksi kita Bimasakti (the Milky Way) terlihat juga posisi matahari kita (sun). Pada sisi bawah gambar terlihat Awan Smith (Smith Cloud) yang sedang mengarah ke galaksi Bimasakti dan suatu saat keduanya akan bertabrakan (bisa dilihat pada gambar animasi dibawah halaman)
Sejak ditemukan, para astronom masih berdebat apakah awan tersebut benar-benar mendekati galaksi